Masjid Assyuhada Di Bali, Hadiah Raja Badung Kepada Ulama Dari Makassar

Pada saat itu, ada beberapa kerajaan di pulau Bali, termasuk kerajaan Badung dan kerajaan Mangui, yang berperang dan berperang. Pada saat yang sama, seorang musafir yang diduga berasal dari Bugis tiba dan terdampar di Pulau Serangan memasuki wilayah kerajaan Badung.

Sejak berdirinya Masjid Nurul Huda dari era Kerajaan Gelgel telah melalui beberapa tahap renovasi dan rehabilitasi, hingga akhirnya pada tahun 1989 Masehi jatuh ke tahun 1409 H. Masjid Nurul Huda dibangun kembali dengan struktur beton lantai dua dan atapnya masih memiliki bentuk aslinya.

Masjid Assyuhada Di Bali, Hadiah Raja Badung Kepada Ulama Dari Makassar

Megah di pusat desa Gelgel, Klungkung, Bali, Masjid Nurul Huda adalah masjid pertama yang dibangun di pulau Bali sejak abad ke-14.

Baca Juga: Tips Memilih Kontraktor Kubah Masjid

Perjalanan itu dilakukan untuk menghadiri pertemuan akbar raja nusantara. Masjid Asy-Syuhada atau masyarakat lokal biasa menyebut sebagai Masjid Kampung Bugis,yang mana masjid ini terletak di Kampung Bugis, Kelurahan Serangan, Denpasar Selatan, Kota Denpasar, Bali.

Masjid ini didirikan pada abad ke-17, dan juga masjid ini adalah salah satu masjid tertua di Bali. Konstruksi dilakukan oleh penduduk desa Bugis dengan bantuan raja badung Hindu Ngurah Sakord Cokorda. Kondisi desa Gelgel tidak berbeda dengan desa-desa Muslim lainnya di kepulauan ini, tetapi nuansanya sedikit berbeda, dikelilingi oleh kuil dan penduduk yang mayoritas beragama Hindu.

Ketika kita memasuki desa Islam Gelgel, saat kita melewati persimpangan dari selatan (Denpasar), di tengah adalah patung prajurit Kerajaan Gelgel di masa lalu. Dari persimpangan ini, kita bisa langsung melihat Menara Masjid Nurul Huda yang terkenal di Kampung Gelgel.

Selama renovasi 1994, Masjid Agung Sudirman mengalami perubahan dalam bentuk bangunan dengan menerapkan bentuk doa Bali. Masjid Assyuhada terletak persis di selatan bagian pulau yang kira-kira seukuran Pulau Putri di Kepulauan Seribu, Jakarta.

Di selatan Pulau Serangan, dihuni oleh komunitas yang dikenal sebagai Komunitas Desa Bugis. Keberadaan Masjid Gelul Nurul Huda sebagai masjid pertama di Bali tidak terkait dengan peran kerajaan Majapahit di masa lalu. Pada saat itu, Raja Gelgel, yaitu Raja Ketut Dalem Ngulesir, melakukan perjalanan ke ibukota Majapahit di pulau Jawa.

Mereka berlayar dari Sulawesi Selatan ke daerah-daerah yang tidak dijajah oleh Belanda, termasuk Pulau Serangan di Bali. Dari kisah leluhur Bugis tentang harga tanah, mereka membantu raja Pemecutan melawan kerajaan Mengwi.

Sebagai hadiah, warga Muslim di desa Bugis menerima beberapa paket untuk masjid dan kuburan. Sebelum renovasi Masjid Agung Sudirman pada tahun 1994, itu dalam bentuk bangunan joglo berdinding tertutup.

Bentuk joglo digunakan karena mayoritas Muslim di masjid adalah pendatang dari Jawa, sehingga mereka memiliki hubungan dekat dengan bentuk joglo dan membawa rasa kedekatan dengan kampung halaman mereka.

Pendahulu Masjid Asy-Syuhada terkait dengan keberadaan desa Bugis di Pulau Serangan. Di kota Denpasar, Kampung Bugis dikenal sebagai salah satu daerah konsentrasi umat Islam. Praktik monopolistik dari United East India Company (VOC) di Sulawesi Selatan pada abad ke-17 adalah alasan mengapa Bugis meninggalkan daerah itu.

Penduduk desa Gelgel hidup di bawah mayoritas dan kadang-kadang menikah dengan orang Hindu setempat, di mana mereka tinggal di seluruh Klungkung, seperti desa Lebah, desa Kusamba dan Toya Pakeh di pulau Nusa Penida.

Bahasa komunikasi sehari-hari mereka masih menggunakan bahasa Bali. Masjid Nurul Huda telah direnovasi beberapa kali, tetapi bentuknya yang khas masih terlihat, seperti menara 17 meter. Desa Gelgel dan keberadaan masjid tertua di Bali adalah jejak sejarah penyebaran Islam di pulau Bali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*